Minggu, 08 Juli 2012

tau kah kau ap yg ad di dalam hati q, kalo amu tau apakah akan engkau balas ap yg ad di dalam hati q, klo amu mw tau isi hati q adalah wat amu, isiny adalah bahwa hati q sayang dan cinta padamu

Minggu, 25 Maret 2012

penyakit kudis dan pencegahannya

Penyakit Kulit - Penyakit kulit yang dibahas disini adalah penyakit kulit yang tidak berbahaya atau dalam arti kata lain tidak akan menimbulkan dampak buruk terhadap kelangsungan hidup orang terkena penyakit tersebut, namun cenderung lebih kepada rasa gatal-gatal yang dialami oleh si penderita atau mungkin juga barakibat rasa malu atau kurang percaya diri.

Berikut adalah beberapa jenis penyakit kulit yang dimaksutkan, sekaligus akan dibahas juga cara pencegahannya.

1. Kudis

Kudis adalah penyakit kulit yang menular, penyakit ini dalam bahasa ilmiah disebut scabies, memiliki gejala gatal, dan rasa gatal tersebut akan lebih para pada malam hari. Sering muncul di tempat-tempat lembab di tubuh seperti misalnya, tangan, ketiak, pantat, kunci paha dan terkang di celang jari tangan atau kaki.

Cara Pencegahan penyakit kudis dapat dilakukan dengan mencuci sperai tempat tidur, handuk dan pakaian yan dipakai dalam 2 hari belakangan dengan air hangat dan deterjen.

2. Kurap

Penyakit Kurap merupakan suatu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh fungsi. Gejala kurap mulai dapat dikenali ketika terdapat baian kecil yang kasar pada kulit dan dikelilingi lingkaran merah muda. Kurap dapat dicegah dengan cara mencuci tangan yang sempurna, menjaga kebersihan tubuh, dan mengindari kontak dengan penderita.

Kurap dapat diobati dengan anti jamur yang mengandung mikonazol dan kloritomazol dengan benar dapat menghilangkan infeksi.

3. Panau

Panau atau Panu adalah salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit panau ditandai dengan bercak yang terdapat pada kulit disertai rasa gatal pada saat berkeringat. Bercak-bercak ini bisa berwarna putih, coklat atau merah tergantung warna kulit si penderita.
Panau paling banyak dijumpai pada remaja usia belasan. Meskipun begitu panau juga bisa ditemukan pada penderita berumur tua.

Cara pencegahan penyakit kulit Panau dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit, dan dapat diobati dengan obat anti jamur yang dijual di pasaran, dan dapat juga diobati dengan obat-obatan tradisional seperti daun sirih yang dicampur dengan kapur sirih dan dioleh pada kulit yang terserang Panau
Kulit adalah bagian tubuh paling luar. Segala kotoran, sinar matahari, asap kendaraan yang menempel, akan berpengaruh pada kesehatan kulit.
Perawatan yang optimal wajib dilakukan untuk menjaga performa kulit sehingga tetap sehat.
A. Beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan kulit adalah sebagai berikut:
1. Perhatikan segala sesuatu yang tidak normal pada kulit
  • luka-luka yang memborok
  • ruam (bintik-bintik merah) atau bilur-bilur
  • luka-luka biasa
  • goresan
  • noda-noda, bercak, atau setiap tanda yang tidak wajar
  • peradangan (tanda-tanda radang, yaitu kemerah-merahan, panas, sakit, dan pembengkakan)
  • Pembengkakan
  • Benjolan yang tidak wajar
  • Kelenjar getah bening yang membengkak (benjolan kecil pada leher, lipat ketiak atau lipat paha)
  • Rambut yang rontok atau menipis, atau warnanya menjadi suram
  • Rontoknya alis mata
2. Memperhatikan kebersihan perorangan. Mandilah dan gantilah pakaian asetiap hari. Cucilah semua pakaian perlengkapan tempat tidur serta jemurlah di bawah sinar matahari.
3. Memeriksakan dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan.
B. Gangguan Kulit:
Sebagian gangguan kulit disebabkan oleh penyakit atau gangguan yang hanya mengenai kulit, seperti jamur (kurap), ruam popok (diaper rash), atau kulit. Gangguan kulit lain merupakan gejala penyakit yang mengenai seluruh tubuh—seperti ruam pada penyakit campak, atau borok, bercak-bercak yang kering pada penyakit pellagra (malnutrisi). Keadaan kulit atau jenis-jenis borok tertentu dapat merupakan tanda penyakit yang parah seperti lepra, TBC, atau syphillis.
C. Macam-macam gangguan kulit:
  1. Kudis (Gudig, scabies)
  2. Tuma (Kutu rambut atau kutu kepala)
  3. Kutu dan tangau
  4. Luka kulit yang bernanah
  5. Cacar monyet (Impetigo)
  6. Bisul dan abses
  7. Gelegata, bilur, atau ruam yang gatal akibat alergi
  8. Herpes
  9. Infeksi Jamur
  10. Panu
  11. Belulang (Kapalan)
  12. Kanker kulit
  13. Borok pada kulit
D. Pedoman Umum untuk Mengobati Gangguan Kulit:
Meskipun banyak gangguan kulit memerlukan pengobatan yang khusus, ada beberapa tindakan umum yang sering berhasil:

PATOKAN 1:
Jika daerah yang terkena panas dan sakit, obatilah dengan cara panas. Letakkan kain yang panas dan lembap pada bagian tersebut, mengompres dengan cara panas.
Jika kulit memperlihatkan tanda-tanda
infeksi yang parah seperti:
  1. Peradangan (inflamasi, kemerah-merahan pada kulit di sekitar daerah yang sakit)
  2. Pembengkakan
  3. Terasa panas di sekitar daerah yang sakit
  4. Bernanah
Lakukanlah tindakan berikut:
  • Jangan menggerakkan bagian yang sakit dan angkatlah bagian yang sakit itu agar lebih tinggi daripada bagian tubuh yang lain.
  • Letakkan yang panas dan lemba
  • Jika infeksinya parah atau jika orang itu menderita panas, berikan antibiotika(penicilin atau sulfonamide)
Tanda-tanda bahaya ialah:pembengkakan kelenjar getah bening, garis merah diatas daerah yang meradang, atau bau yang busuk. Jika keadaan tidak menjadi lebih baik setelah diobati, gunakan antibiotika dan mintalah pertolongan dokter secepatnya.

PATOKAN 2
  1. Letakkan kain yang telah dibasahi air dingin dengan larutan cuka(2 sendok makan cuka didalam kurang lebih 1 liter air matang).
  2. Kalau daerah yang sakit terasa lebih baik, tidak lagi basah dan telah terbentuk kulit baru yang halus, taburkanlah campuran bedak dan air tipis-tipis(1 bagian bedak dicampur dengan satu bagian air)
  3. Kalau keadaannya mulai sembuh, dan kulit baru mulai menebal atau bersisik, gosokkan sedikit minyak sayur atau body oil untuk melunakkannya.
PATOKAN 3
Jika kulit yang sakit berada pada bagian tubuh yang terkena sinar matahari, lindungilah daerah tersebut dari sinar matahari

PATOKAN 4
Jika kulit yang paling menderita tertutup oleh pakaiaan, biarkan daerah tersebut terkena sinar matahari langsung selama 20 menit, 2 atau 3 kali sehari.
D. Petunjuk Penggunaan Kompres Panas
  1. Didihkan air, kemudian diamkan dulu sampai air tersebut menjadi hangat.
  2. Lipatlah kain bersih yang lebih lebar daripada daerah yang akan anda rawat, celupkan kain ini kedalam air hangat tadi, dan peraslah.
  3. Letakkan kain tersebut pada kulit yang sakit.
  4. Tutup kain tersebut dengan sehelai cellotip atau plastik tipis.
  5. Bungkuslah dengan handuk untuk menyimpan/menahan panasnya sehingga tidak cepat dingin.
  6. Bagian yang sakit harus ditinggikan.
  7. Kalau kainnya mulai menjadi dingin, celupkan kembali kedalam air hangat dan ulangi tindakan ini.
Jerawat atau acne adalah suatu penyakit radang yang mengenai susunan pilosebaseus yaitu kelenjar palit dengan folikel rambutnya. Jerawat sangat umum terdapat pada anak-anak masa pubertas dan dianggap fisiologis oleh karena perubahan hormonal. Timbunan lemak di bawah kulit ini selain membuat kulit kasar, tidak rata juga tidak enak dipandang mata. Penderita umumnya mempunyai jenis kulit berminyak.
Beberapa faktor penyebab timbulnya jerawat yaitu :

a. Genetik
Mereka yang orang tuanya berjerawat selagi muda, maka anaknya akan lebih mudah terkena jerawat dibandingkan mereka yang tidak memiliki genetik berjerawat, dan biasanya penderita, keadaannya cukup parah (bernanah). Mereka yang tidak memiliki genetik berjerawat meskipun pola hidupnya tidak baik, mereka tidak mudah terkena jerawat.

b. Umur dan jenis kelamin
Pada umumnya jerawat muncul pada usia pubertas dan remaja (usia 13-19 tahun), yang disebabkan masalah hormonal yang belum stabil dalam memproduksi sebum. Wanita lebih banyak terkena dibanding pria tetapi umumnya jerawat pada pria lebih parah keadaannya.

c. Makanan
Menurut penelitian yang dilakukan oleh sebuah institusi kecantikan kulit di Amerika Serikat (Academy of Dermatology) mengatakan bahwa jerawat tidak disebabkan oleh makanan. Tidak ada makanan yang secara signifikan dapat menimbulkan jerawat, tetapi ternyata sebuah hasil studi kasus yang terbaru, membuktikan hal yang bertolak belakang. Para pakar peneliti di Colorado State University Department of Health and Exercise menemukan bahwa makanan yang mengandung kadar gula dan kadar karbo hidrat yang tinggi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menimbulkan jerawat.

Secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa mengkonsumsi terlalu banyak gula dapat meningkatkan kadar insulin dalam darah, dimana hal tersebut memicu produksi hormon androgen yang membuat kulit jadi berminyak. Dan kadar minyak yang tinggi dalam kulit merupakan pemicu paling besar terhadap timbulnya jerawat.

d. Gangguan pencernaan makanan
Tidak teraturnya pembuangan kotoran dapat mempengaruhi timbulnya jerawat.

e. Alergi terhadap makanan
Sifat alergi terhadap beberapa zat protein, karbohidrat dan lemak dapat menjadikan jerawat lebih parah.

f. Mekanis
Kebiasaan memegang atau memencet jerawat menyebabkan jerawat lebih parah, karena luka yang terjadi memungkinkan infeksi dan menyebabkan penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.

g. Pengaruh Iklim
Iklim yang lembab dan panas menyebabkan kelenjar palit bekerja lebih giat dan dapat memperburuk keadaan jerawat.

h. Psikis
Pengaruh tekanan pada pikiran dapat menimbulkan jerawat

i. Faktor hormonal
Hormon androgen memegang peranan yang penting dalam merangsang pembentukan palit oleh kelenjar sebasea dan dalam mempengaruhi proses pertandukan di sekitar muara folikel. Tidak terdapatnya jerawat pada laki-laki membuktikan adanya pengaruh endokrin.

j. Penggunaan Kosmetika
Penggunaan kosmetika yang melekat pada kulit dan menutupi pori-pori, jika tidak segera dibersihkan akan menyumbat saluran kelenjar palit dan menimbulkan jerawat yang disebut komedo. Kosmetik yang paling umum menjadi penyebab timbulnya jerawat yaitu kosmetik pelembab yang langsung menempel pada kulit.
Penyakit Autoimun Kulit adalah penyakit yang disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan (sistem imun) tubuh pada kulit dimana sel darah putih atau antibodi tubuh melawan jaringan tubuh sendiri atau protein ekstraselular [1]. Sistem imun tubuh terdiri atas sel darah putih, antibodi, dan substansi lainnya yang berfungsi untuk melawan infeksi atau protein asing. Sistem imun tubuh memiliki kemampuan untuk membedakan sel tubuh sendiri dan sel asing. Namun, pada individu yang terkena penyakit auto-imun, sistem imun kehilangan kemampuan untuk membedakan sel tubuh dengan sel asing sehingga sistem imun akan menyerang sel tubuh sendiri [2][1]. Penyakit autoimun menyerang organ yang bervariasi. Salah satu organ yang dapat diserang pada kasus autoimun adalah kulit. Penyakit autoimun pada lapisan dasar epidermis ditandai dengan kerusakan pada jaringan ikat dan formasi vesikula pada lapisan subepidermis [3]
Terdapat berbagai gejala klinis pada kulit akibat penyakit autoimun, diantaranya penyakit kulit, termasuk rasa gatal dan menggaruk yang menetap, lesi, luka, lepuh, dan kerusakan kulit lainnya serta kehilangan pigmen kulit [2]. Terdapat dua kasus penyakit autoimun yang sering ditemukan yaitu Discoid lupus erythematosus (DLE) dan Pemphigus. Discoid lupus erythematosus dapat berkembang menjadi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) [4].
Tahap awal DLE ditandai kehilangan pigmen kulit, kulit menjadi merah, dan luka pada hidung [4]. Palatum-nasale yang seharusnya kasar menjadi halus, selain itu dapat terjadi erosi, ulserasi, dan luka pada palatum nasale, nostril, cuping hidung, sekitar mata dan telinga [4]. Bekas-bekas luka dapat ditemukan pada kasus kronis dan parah. [4].
Lesi Pemphigus vulgaris biasanya sangat jelas ditemukan pada rongga mulut.[4] Kadangkala gejala ditandai dengan limpadenopati, tidak mau makan, kelemahan, demam dan sepsis.[4] Pemphigus foliaceus biasanya menyerang telinga dan wajah.[4] Gejala awal ditandai dengan depigmentasi pada palatum nasale, celah pada dorsal mulut, periokular dan telinga, gatal, rasa sakit dan kelemahan tubuh dapat ditemukan pada kasus-kasus tertentu [4]

[sunting] Proses Kejadian Penyakit

Terdapat dua mekanisme toleransi sistem imun.[3] Mekanisme pertama yaitu seleksi secara positif oleh timus, dimana yang dipilih hanya sel T yang dapat mengenali peptida pada molekul Histocompatability Complex (MHC) [3]. Mekanisme kedua yaitu seleksi negatif, dimana sel T yang mengenali antigen-sendiri dengan afinitas yang terlalu tinggi dihapus melalui proses apoptosis dan tidak diizinkan untuk memasuki sirkulasi tubuh. Mekanisme yang menginduksi sistem autoimun pada kulit berkaitan dengan MHC dan gen apoptosis [3].
Beberapa mekanisme yang berkaitan dengan penyakit autoimun pada kulit yaitu[3]:
  1. pelepasan antigen asing
  2. keberadaan faktor samar dari protein intraselular selama proses inflamasi
  3. aktivasi Sel T yang diinduksi oleh keberadaan antigen sendiri
  4. mimikri molekular oleh fragmen peptida tertentu oleh agen infeksius terhadap protein induk
  5. reaksi imunologis melawan antigen-sendiri yang dimodifikasi.

[sunting] Diagnosa

Penyakit autoimun dapat didagnosa berdasarkan keluhan penderita, gejala klinis, hasil sitologi, hasil mikrobiologi yang umumnya negatif terhadap jamur dan bakteri, berbagai diagnosa imunologis, dermatohistopatologi, dan demonstrasi autoantibodi pada jaringan [5]. Diagnosa penyakit autoimun sebaiknya dilakukan dengan biopsi. [4] Biopsi ini biasanya dilakukan apabila hasil kerokan kulit negatif terhadap infeksi bakteri dan fungi, serta hewan telah diberikan terapi antibiotik namun luka tanpa mikroorganisme tetap ditemukan pada pemeriksaan ulang sesudah terapi.[4] Dalam melakukan biopsi, hal-hal yang harus diperhatikan yaitu pemilihan lesi yang tepat, teknik biopsi, dan interpretasi biopsi. [4]. Demonstrasi keberadaan autoantibodi pada kulit melalu teknik pewarnaan imunoflorosen merupakan teknik yang bermanfaat namun umumnya tidak terlalu diperlukan [5].

[sunting] Terapi

Konsep terapi penyakit autoimun kulit yaitu mengontrol penyebab respon sistem autoimun (tahap induksi) atau mengontrol efek dari penyakit autoimun (tahap peradangan).[5] Kontrol terhadap komponen penginduksi biasanya merupakan obat-obat sitotoksik, seperti agen alkil atau antimetabolit, serta glukokortikoid pada dosis tinggi dalam waktu lama.[5] Pemberian dosis tinggi dapat mengurangi efek negatif akibat pemberian obat dalam jangka panjang, misalnya akibat glukokortikoid.[5] Beberapa obat yang sering digunakan untuk terapi penyakit autoimun kulit, yaitu glukokortikoid, obat sitotoksisk, azathioprine, krisoterapi, siklosporin, tetrasiklin, doksisiklin, niasinamid. [5].
Glukokortikoid merupakan obat yang paling sering digunakan dalam terapi penyakit autuimun kulit [5]. Contoh golongan ini yaitu prednisone dan prednisolon [5]. Glukokortikoid bekerja pada reseptor yang memparalisiskan makrofaga, menghambat kemotaksis sel radang terhadap jaringan, dan bekerja berlalawanan terhadap autoantibodi.[5] Beberapa efek samping pemberian glukokortikoid yaitu polidipsia, poliuria, polifagia, luka pada lambung, radang pankreas, dan infeksi sekunder [5].
Contoh obat sitotoksik yaitu agen alkil (misalnya siklofosfamida, Klorambusil) dan antimetabolit yang digunakan untuk menurunkan produksi antibodi.[5] Klorambusil lebih sering digunakan dibandingan Siklofosfamida karena memiliki efek samping yang lebih ringan. Azathioprine merupakan agen anti-metabolit (analog dengan purin) [5].
Krisoterapi menggunakan garam emas. Emas mengkonjugasi substrat lain seperti gula [5]. Emas dapat menghambat kemotaksis sel radang, menurunkan produksi antibodi, menghambat komplemen pengaktivasi, dan menurunkan fagositosis.[5] Efek sampingnya dapat berupa eritrema, eosinofilia, dan trombositopenia.[5] Siklosporin merupakan makrolida fungal yang menghambat aktivasi interleukin-2.[5] Efek sampingnya berupa radang lambung dan usus, gingival hiperplasia, papillomatosis, nefrotoksikosis, dan infeksi sekunder [5].
Tetrasiklin menekan kemotaksis leukosit dan sinergis dengan Niasinamid.[5] Niasinamid menghambat IgE-mediated mast cell degranulation dan menurunkan pelepasan protease oleh leukost [5]. Doksisiklin dapat berfungsi sebagai imunomodulator [5]. Kombinasi ini sangat baik dan relatif murah, namun tidak dianjurkan untuk kasus penyakit autoimun yang parah.[5] Kombinasi terapi ini dianjurkan pada kasus yang ringan, seperti diskoid lupus dan lupoid onikodistrofi [5].
Berbagai penyakit kulit bisa menyerang siapa saja, mulai dari eksim ringan, kusta hingga psoriasis yang dianggap langka dan sulit disembuhkan. Data dari World Health Organization (WHO) diketahui bahwa angka kejadian psoriasis adalah sekitar 1-3 persen dari total penduduk bumi.

Federasi Kesehatan Amerika Serikat memperkirakan jumlah penderita psoriasis di Negeri Paman Sam itu mencapai 5 juta jiwa saat ini. Sedangkan Kementrian Kesehatan Inggris mengatakan bahwa sekitar 1,5 juta penduduknya menyandang penyakit kronik tersebut. Tapi di Indonesia belum ada data akurat tentang penderita psoriasis. Penyakit kulit ini belum diketahui masyarakat.

Menurut dr Susie Rendra SpKK dari Rumah Sakit Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat, psiorasis adalah penyakit inflamasi atau peradangan kulit yang sifatnya kronis.

“Biasanya ditandai oleh pertumbuhan kulit yang lebih cepat dari herediter/keturunan atau genetik,” katanya.

Penyakit ini hilang-timbul, dapat muncul dalam waktu lama, dan bisa mengalami remisi (periode di mana tidak dijumpai kelainan pada kulit penderita). Penyakit ini memang tidak menular. Namun, bisa muncul pada bagian tubuh mana saja.

Psoriasis merupakan peradangan kulit yang bersifat kronis dan residif. Walaupun bukan termasuk penyakit mematikan, psoriasis bisa menjadi penyakit serius dan berbahaya jika terjadi komplikasi. Bila dibiarkan, penyakit ini dapat menimbulkan sindrom metabolik yang mengencam jiwa. Gangguan kolesterol, jantung, dan kenaikan tekanan darah merupakan beberapa penyakit yang sering dijumpai pada pasien psoriasis. Penyakit ini makin lama cenderung makin luas dan parah. Selain itu penderita juga memiliki risiko tinggi mengalami penyakit jantung koroner. Oleh sebab itulah, penyakit ini harus ditangani dengan baik.

Faktor Penyebab dan Gejala

Berbeda dengan pergantian kulit normal yang biasanya berlangsung selama 3-4 minggu, psoriasis berlangsung secara cepat, yaitu sekitar 2-4 hari. Penyakit ini bisa menyerang semua usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa salah satu penyebab psoriasis adalah gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang disebut dengan autoimmune disease. Artinya sistem imun atau sistem kekebalan tubuh menyerang atau merusak jaringan tubuh sendiri. Yang diserang adalah sel kulit sendiri, sehingga muncul psoriasis.

Selain itu, psoriasis dapat dicetuskan oleh faktor lingkungan. Gaya hidup tak sehat, misalnya mengonsumsi alkohol yang berlebihan, dan tingkat stres yang tinggi dapat juga mencetuskan dan memperberat penyakit psoriasis.

Gejala-gejalanya biasanya berupa bintik merah yang makin melebar dan ditumbuhi sisik putih berlapis-lapis. Umumnya lapisan kulit berlebih ini tidak selalu tumbuh di seluruh bagian kulit tubuh.

"Walau dapat terjadi di seluruh badan, biasanya paling sering ditemukan di daerah kepala, sehingga menyerupai ketombe, dan daerah yang sifatnya ekstensor atau arahnya lengkung luar seperti siku, lutut, dan bokong. Dapat pula terjadi di wajah, telapak tangan, telapak kaki dan bahkan bisa terkena pada alat kelamin,” terang dokter ahli kulit ini.

Selain itu, psoriasis juga bisa menyerang kuku. Jika menyerang kuku, akan terlihat lubang-lubang kecil atau nail pits pada salah satu bagian kuku. Dan kuku pun akan rapuh, tak seperti kuku normal.

Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan histopatologi. “Untuk mengetahui lebih pasti, bisa dengan cara biopsi atau operasi kecil untuk mengambil sebagian kulitnya dan diteliti dengan mikroskop,” jelas dr Susie. Pemeriksaan penunjang ini wajib dilakukan untuk mengetahui benar atau tidaknya pasien menderita psoriasis kulit.

Sekali lagi, psoriasis kulit memang tidak membahayakan jiwa. Namun pengobatan oral yang tidak terkontrol oleh dokter dapat mengakibatkan rusaknya organ dalam. Dan hal inilah yang bisa membahayakan jiwa penderita. Penyakit ini hampir tidak bisa dihilangkan atau disembuhkan secara total. Namun dengan pengobatan yang tepat dan dengan menghindari faktor-faktor pencetusnya, penyakit ini dapat dikendalikan dengan baik untuk mendapatkan masa remisi dan dapat memperlama jarak kekambuhan.

Tetapi psoriasis bertujuan untuk mengurangi keparahan dan mencegah meluasnya kelainan kulit. Pemilihan pengobatan tergantung pada derajat keparahan, penyakit yang menyertai, dan harapan pasien. Pasien perlu diedukasi mengenai tujuan pengobatan psoriasis dan harapan penyembuhan yang realistis bahwa psoriasis mungkin bisa kambuh. Penyakit psoriasis adalah penyakit yang menahun sehingga konsekkuensi pengobatan adalah kemungkinan timbulnya efek samping.

Pengobatan psoriasis dilakukan secara bertahap, secara cermat oleh dokter untuk menentukan tipe psoriasis, luasnya area yang terkena, dan derajat keparahan penyakit. Tujuannya adalah untuk menghambat laju pertumbuhan sel kulit yang berlebihan sehingga gejala yang timbul dapat hilang atau berkurang.

Ada beberapa langkah pengobatan yang diberikan yaitu pengobatan topikal atau obat oles yang langsung mengenai kulit.

“Bisa juga dengan terapi penyinaran ultraviolet dan obat-obatan, terutama pada kasus yang lebih berat atau parah,” terangnya.
(Genie/Genie/tty) http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybershopping|0|0|5|6041
Angka Kejadian
Panu lebih sering terjadi di daerah dengan temperatur lebih tinggi dan kelembaban yang relatif lebih tinggi. Prevalensi nasional panu sekitar 2-8% dari populasi. Insiden yang pasti di Amerika Serikat sulit diperkirakan karena banyak orang yang terkena panu tidak berobat ke dokter. Panu terjadi di seluruh dunia, dengan prevalensi yang dilaporkan sebanyak 50% di lingkungan yang panas dan lembab di kepulauan Samoa Barat dan hanya 1,1% di temperatur yang lebih dingin di Swedia.
Belum ada laporan/data yang menyebutkan mortalitas/morbiditas pada penderita panu. Insiden panu sama pada semua ras, meskipun perubahan pigmentasi kulit tampak lebih jelas pada orang yang berkulit lebih gelap. Berdasarkan beberapa riset, disimpulakn bahwa tidak ada jenis kelamin yang lebih dominan pada penderita panu. Di Amerika Serikat, panu sering dijumpai pada usia 15-24 tahun, saat kelenjar sebasea (sebaceous glands) bekerja aktif. Angka kejadian sebelum pubertas atau setelah usia 65 tahun jarang ditemukan.
Di negara-negara tropis, frekuensi usia bervariasi. Sebagian besar kasus dijumpai pada usia 10-19 tahun di negara-negara yang lembab dan lebih hangat, seperti: Liberia dan India.

Keadaan basah atau berkeringat banyak, menyebabkan stratum korneum melunak sehingga mudah dimasuki Malassezia furfur.
Penyakit Kulit
Merupakan suatu penyakit yang menyerang kulit permukaan tubuh, dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab.

Beberapa Penyebab Penyakit Kulit:
1. Kebersihan diri yang buruk
2. Virus
3. Bakteri
4. Reaksi Alergi
5. Daya tahan tubuh rendah

Tanda dan Gejala Penyakit Kulit
Ø Gatal-gatal (saat pagi, siang, malam, ataupun sepanjang hari)
Ø Muncul bintik-bintik merah/ bentol-bentol/ bula-bula yang berisi cairan bening ataupun nanah pada kulit permukaan tubuh
Ø Timbul ruam-ruam
Ø Kadang disertai demam
Kemungkinan Cara Penularan
Ø Penularan langsung; sentuhan/bersinggungan langsung dengan penderita
Ø Melalui perantara; melalui pakaian, selimut, handuk, sabun mandi yang dipakai oleh penderita.

Upaya Pencegahan Terjadinya Penularan
Ø Tingkatkan kebersihan giri
Ø Tingkatkan kekebalan tubuh dengan cara banyak mengkonsumsi makanan bergizi (multivitamin) dan istirahat yang cukup.
Ø Hindari kontak langsung dengan penderita, bila bersinggungan/bersentuhan dengan penderita segera cuci tangan menggunakan air bersih yang mengalir bila perlu menggunakan sabun
Ø Hindari penggunaan perlengkapan pribadi secara bersamaan (selimut, pakaian, handuk, sabun mandi, dll)
Ø Lakukan perawatan dan pengobatan pada anggota keluarga yang menderita penyakit kulit yang cenderung menular.

Dampak yang mungkin terjadi bila penyakit kulit yang cenderung menular tidak diutangani secara cepat dan benar
Ø Gangguan rasa nyaman gatal meningkat/berlarut-larut
Ø Meningkatkan risiko penularan kepada anggota keluarga yang lain
Ø Kerusakan jaringan kulit
Ø Gangguan/hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
Ø Masalah kesehatan kemungkinan bertambah (gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat)
Cara Perawatan Penyakit Kulit
1. Hindari menggaruk area yang gatal, bila gatal lebih baik diusap-usap atau bisa juga direndam air hangat (tetapi harus dipastikan tidak ada luka/ bula-bula yang berisi cairan/nanah tidak pecah)
2. Pada area yang gatal dan terdapat luka/ bekas bula yang pecah hindari terkena air (bila di permukaan tubuh terdapat luka/ bekas bula yang pecah untuk sementara waktu jangan mandi)
3. Bila terdapat bula yang berisi nanah/cairan yang pecah, segera keringkan menggunakan kapas, dan buang kapas pada tempat sampah (jangan dileytakkan disembarang tempat).
4. Jaga kebersihan diri dan ganti pakaian sehari minimal sekali.
5. Tingkatkan kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan istirahat secara cukup.
6. Lakukan kompres menggunakan rivanol pada daerah bekas bula yang pecah atau daerah yang bernanah.